I know I have to do my damn works now but …

I am E X H A U S T E D, dear Tumblr.

Gilak! 4 bulan dalam posisi yang serba nyaman dan sekarang saya harus dipaksa melebarkan comfort zone selebar-lebarnya. Fuh.

Jadi ceritanya saya termasuk orang yang beruntung karena sebelum lulus kuliah sudah ada perusahaan yang mau nampung saya buat jadi budaknya. Terus ceritanya saya gak puas, well, human. Kapan sih puasnya. Dan berselingkuhlah saya ke tempat lain. Dan singkat cerita, dengan segala keajaiban yang ada saya diterima. Sebuah tempat baru yang totally different dari yang sebelumnya. Perusahaan minyak punya orang-orang yang katanya ngambilin kekayaan alam Indonesia. Well, selama enjinir-enjinir Indonesia gak bisa ngelola ya biarin orang-orang yang bisalah ya yang ngelola. Kalo gak bisa berbuat gak usah berisik.

Di tempat baru saya ditempatin di sebuah divisi yang enak nyantai surga dunia. Tapi tiba hari di mana semua berubah 180 derajat. Sejak hari pertama, orang-orang di divisi baru udah bilang “Welcome to the club yah…” “Wah, welcome on board yah…” I used to think that this is only a welcome note, a common welcome note. Tapi, saya baru sadar. Setelah 3 minggu di tempat baru minus seminggu gara-gara sakit combo tipus & demam berdarah (kayanya efek stress dan sok-sokan pengen belajar hal-hal baru quickly), that welcome note is very “welcoming”. Graaaaaa. graaaa. graaaaaa. graaaaaa. graaaaaa. graaaaaa. graaaaa. #kemudiangilasendiri.

Dari dulu saya orang yang optimis, yah kadang-kadang terlalu optimis. Dan jeleknya, kurang bisa ngukur diri. I never know my limit sampe akhirnya stuck sendiri, bingung sendiri, terus galau sendiri *yaelah, galau banget istilahnya*. Beberapa hari ini, saya untuk pertama kalinya sampai di satu titik di mana mulai stuck sama kerjaan dan mulai muncul pikiran-pikiran buat menyerah, pikiran buat cabut, pikiran buat kuliah lagi aja dulu biar lepas dari kerjaan, pikiran buat ternak ikan lele (seriously, this is my plan B untuk menghidupi diri saya sendiri instead of jadi budak korporat terus). Fuh. Fuh. Fuh. Di tempat baru saya harus berjibaku dari nol, dealing with technical things, another engineering and technical terms, a lot of new terms & processes. Who the hell will care dengan sumur-sumur minyak, bor-bor minyak, pipa-pipa gas dan segala kegiatannya itu? *nangis sendiri di pojokan* Dan inilah bedanya kuliah dan kerja. Orang gak pernah mau nunggu kita belajar baru dikasih kerjaan. Mereka gak peduli saya udah ngerti apa belom. Gak kaya kuliah di mana saya dikasih waktu buat belajar (yang seringkali dibuang-buang juga waktunya) dulu baru dites. Pas kerja, every day is an exam day. Saya mulai ngerasa gak ada gunanya hampir 4 taun kuliah karena semuanya dipelajarin di real life bener-bener dari nol lagi. Jadi yang kuliahnya gak beres-beres, you waste your time and your money on not-that-worth-to get things, dude. Make it fast. Ilmu yang ada di buku-buku tebel bikinan professor itu gak ada seujung kuku dari yang ada di dunia nyata ternyata……………….. Gak ada lagi tuh ceritanya punya pride karena punya titel lulusan ini lulusan itu, IP segini segitu, pas kuliah aktif ini aktif itu. Yang dibutuhin sekarang adalah bukti kalau background-background kece pas kuliah itu memang berimpact kece juga di kerjaan.

Sekarang saya gak tau bisa survive di tempat yang baru ini atau nggak. Tapi manager saya sendiri udah bilang “Please don’t give up ya di tempat yang baru ini…” Graaaaa. Graaaa. Graaaaaa. Terharu dikit. Tapi tetep aja… I have to absorp all new things really damn quickly. Graaaa. Graaaa. Graaaa.

Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….. emang selalu ada kesempatan ya buat bersyukur. Saya beruntung bertemu dengan beberapa orang yang bisa memberi inspirasi. Cerita-cerita sederhana tentang gimana mereka survive di tempat mereka sekarang, di mana dulu mereka juga mengalami hal yang sama. Dan yang paling juaraaaaa adalaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh………… tetap IBU saya! HAHAHA *stress* Ada untungnya punya ibu dengan academic background yang sama. Ada untungnya punya ibu yang pinter. Ibu saya adalah satu-satunya orang yang dengannya saya akan merasa sangat cupu tingkat Luna Maya waktu berdiskusi soal banyak hal. Well, beliau encer otaknya. Sharing session dengan ibu saya, apalagi soal kerjaan, selalu membawa ke kondisi yang lebih tenang. “Kamu bakal belajar banyak, Kak pasti di situ. Mama juga pernah di posisi itu. Emang takes time. Tapi ilmu yang didapet pasti guna nanti….” Haaaahhh… si emak emang paling juara soal memotivasi *peluk ibu erat-erat*

By the way, saya nge-Tumblr cuma buat dapetin mood lagi, dan sekarang udah mood lagi. Jadi udah deh ya nulis-nulis gak pentingnya. Hahaha.

Oh iya, saya juga kepikiran. Lesson learned dari semua ini adalah:

Adek cowok saya nanti harus punya istri yang keren dan pinter at least kaya ibu saya biar kalo nanti anaknya bingung soal critical things dan adek cowok saya lagi kerja, keponakan saya itu bisa nanya-nanya sama ibunya. Yeah! Lesson learned-nya gak nyambung? Biarin!


Random Thought #3: Anjing!

"Brengsek lu, dasar anjing………!!"

Sering sekali saya mendengar umpatan semacam itu -umpatan yang meng-anjing-anjing-kan orang yang menjadi objek umpatan. Anjing menjadi sebuah ungkapan untuk mendeskripsikan suatu hal yang buruk, tidak sesuai keinginan, atau sekedar untuk lucu-lucuan yang mengejek saja.

Saya seringkali terpikir, apa yang salah dengan anjing sehingga ia menjadi ungkapan untuk mengumpat? Biasanya suatu hal menjadi umpatan karena sifat atau nature nya yang memang kurang baik. Misalnya ungkapan “Tai lu!”. Saya maklum karena memang tahi atau kotoran itu kotor, beraroma tidak sedap, mengundang penyakit dan mengganggu pemandangan jika tidak dibersihkan. Nah, maka saya mulai mendaftar sifat-sifat anjing yang umumnya sudah diketahui oleh orang-orang awam.

1. Loyal a.k.a. Setia

Pernah dengar cerita Hachiko? Anjing yang tetap setia menunggu tuannya pulang sampai akhirnya tuannya meninggal dan tidak kembali pulang. Kisah ini merupakan satu bukti nyata sifat anjing yang loyal dan setia pada tuannya. Pernah mendengar anjing mencampakkan tuannya? Saya rasa tidak pernah ada. Yang ada justru anjing-anjing yang dibuang oleh tuannya karena dianggap sudah tidak lagi berguna atau karena tidak diperbolehkan untuk memeliharanya karena lingkungan tetangganya yang sangat “religius”. Saya juga merupakan salah satu pengagum sifat anjing yang satu ini. I used to have a dog, namanya Pom-Pom. Dan memang benar, Pom-Pom akan berlari menjemput tuannya ketika pulang, setiap hari. Tidak peduli jika tuannya tidak memberi “upah” makanan atas kebaikan berupa penyambutan yang telah dilakukannya, Pom-Pom akan terus menyambut tuannya sambil mengibas-ibaskan ekornya. Hingga akhirnya ia harus mati di tangan tuannya sendiri, dia tetap setia. That was my childhood’s saddest moment, anyway.

Lalu saya berpikir, manusia saja sulit untuk seperti itu. Sering dengar cerita selingkuh dan pengkhianatan di televisi atau koran? Saya berani bertaruh tidak akan ada judul “Blacky, Husky yang Mengkhianati Tuannya Setelah 5 Tahun Hidup Bersama, Kini Telah Bahagia Bersama Tuan yang Baru” di cerita-cerita itu.

2. Tulus

Kenapa saya bilang anjing itu tulus? Atau bahkan makhluk paling tulus yang pernah saya temui (selain orang tua saya tentunya). Karena anjing tidak punya motif apapun saat dia melakukan suatu hal baik. Anjing bukan hewan yang akan tiba-tiba menjadi sangat jinak atau imut kepada tuannya ketika ia lapar, tidak seperti kucing yang akan menawarkan matanya yang berbinar-binar lucu untuk mendapatkan makanan. Anjing juga tidak peduli siapa tuannya. Pernah ada anjing yang menolak tuannya karena tuannya seorang pengemis? Justru yang sering terlihat adalah anjing menjadi sahabat bagi orang-orang yang kurang di-orang-kan oleh sesamanya. 

Lalu saya kembali berpikir, bukannya manusia yang justru seringkali memiliki motif-motif tertentu dalam setiap tindakannya. Akui saja, saya juga sering seperti itu. Contoh paling sederhana, sadar atau tidak, seringkali manusia berteman dengan seseorang karena dia ganteng, cantik, mapan, asik (atau diakui oleh banyak orang sebagai orang yang asik), populer, kaya, punya banyak teman cantik atau ganteng dan kaya (bagi yang berburu jodoh) atau dalam rangka networking, berharap suatu hari nanti dia akan “berguna” dan karena-karena-karena-karena-karena yang lain.

3. Dapat diandalkan

Dapat diandalkan. Sederhana saja. Anjing banyak membantu hidup manusia. Pelacak terpercaya bagi polisi, penjaga rumah, bahkan menjadi penuntun bagi orang-orang buta. Lalu nurani saya bertanya. “Kenapa gak lo aja yang katanya sesama manusia tuh yang nuntun-nuntun sesamanya yang buta?” Jawabannya juga sederhana saja. Manusia (saya) kurang dapat diandalkan. Setiap manusia pasti sibuk dengan kehidupan, hobi, keinginan, dan mimpinya masing-masing sehingga membagi sebagian hidup untuk orang lain menjadi barang mewah yang sulit dikerjakan. Maka, didelegasikanlah tugas mulia ini kepada anjing.

4. Dapat diajar

Seseorang pernah bertanya pada saya “Coba, lo tebak, orang semakin tua, berpengalaman, mapan dan punya banyak achievement dalam hidupnya apanya yang makin berkurang?” Saya berpikir dan jujur saja bingung jadi saya jawab sekenanya: “Umurnya”. Lalu dia melanjutkan “Makin kurang teach-able alias makin susah diajarin.” Saya berpikir dan baru saya sadar “Iya sih, ada benernya juga.” Saya bilang ada benarnya karena mungkin tidak semua akan seperti itu. Tapi kalau mau digeneralisir, teach-ability (suka-suka saya mau pakai istilah apa!) ini sudah mulai menjadi barang langka bagi manusia-manusia mapan, berprestasi, keren, bertitel pemimpin dan “wow” zaman sekarang. 

Sementara di sisi lain, anjing masih dapat diajar hal-hal yang sebenarnya sudah menjadi keahliannya. Diajar untuk membaui ketika ditugaskan menjadi anjing pelacak atupun diajar untuk merawat ketika ditugaskan untuk menemani orang-orang tua dan orang cacat: hal-hal yang dianggap remeh namun sebenarnya berdampak besar.

Nah, sekarang giliran introspeksi diri. Kalau dilihat-lihat, manusia jauh lebih buruk dibandingkan anjing bukan? Maka, saya sampai pada kesimpulan ungkapan  ”Anjing!” itu kurang relevan untuk dijadikan umpatan atas hal-hal yang buruk. Apalagi yang mengumpat itu manusia. Jauh lebih pantas sebenarnya untuk mengumpat “Dasar lu manusia..!” karena ternyata memang sifat-sifat buruk itu lebih banyak ada di manusia daripada di anjing. Saya juga tidak akan merasa sedih atau terhina jika suatu hari nanti ada yang mengumpat (yang bukan dalam maksud bercanda) saya dengan ungkapan “Anjing!” Dilihat sisi positifnya saja: umpatan itu berarti saya setia, tulus, dapat diandalkan dan dapat diajar. 

image


LOL

(Source: pinkmanjesse, via maharddina)



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Powered by Tumblr. Theme by hayleyrocktrix